When i think he is a futurist!

Saya mendengar, maka saya tahu.

Saya melihat, maka saya ingat.

Saya melakukan, maka saya paham.

Tiga tingkatan itu sepertinya terjadi di berbagai fase kehidupan kita, terutama ketika belajar kehidupan atau bahkan belajar pelajaran bersifat eksakta. Fase-fase tersebut mau tidak mau harus dilewati karena kita harus paham. paham dan paham. Jangan hanya tahu kulitnya, kecuali bila memang kita diharuskan melihat kulitnya saja.

Sebagai mahasiswa saya melihat pemerintah itu ada 2, yaitu Presiden (dan menteri) dan DPR RI. Nah, dari dulu, seperti yang dijelaskan di SMA dulu, memang ada yang aneh dengan sistem lapor sana puter sini lapor situ puter sana. Banyak buang waktu menurut saya untuk menentukan suatu kebijakan yang perlu tindakan cepat.

Misal, si Presiden ngebawa hasil godokan UU/Peraturan, dipresentasikan ke DPR, DPR banyak rapatnya, ngantri deh, kemudian baru dipanggil sidang, dikomentarin sama DPR, banyak yang tidak sesuai dengan mau dewan rakyat, balik lagi pemerintah membenarkan, kalo sdh tdk ada, balik lagi ke dewan, masih aja ada salah, waduuuuuh… lama bener.

Makin kesini, di dalam diri masing-masing orang sepertinya banyak yang sudah tidak percaya pada pemerintah apalagi dewan. Well sekarang saya jadi pekerja kontrakan di suatu unit yang mau tidak mau memaksa saya melihat secara ‘helikopter view’ tentang apa yang terjadi di republik ini, terutama ketika memastikan program itu tersampaikan pada target sasaran.

Keberjalanan saya selama bekerja, interaksi dengan elemen-elemen tersebut, saya paham bahwa Bapak satu itu berpikir sangat jauh kedepan, jauh di depan orang-orang yang sering berkoar-koar di tv. Memang yang dirasakan pihak masyarakat adalah saat ini, “yang penting bisa makan besok”, bukan “gimana saya 10 tahun lagi”. Tapi untuk ukuran suatu negara, harus dan harus melihat ke depan, dengan berbagai kemungkinan tidak hanya kondisi di dalam negeri, namun juga luar negeri.

Si Bapak itu sama istrinya meluncurkan gerakan menanam pohon satu orang, ketika ke daerah, spanduknya ada di mana-mana, satu orang satu pohon. Kemudian, si Ibunya meluncurkan program dan ajakan membuka sumur resapan. Itu dilakukan pada 2011, eh eh eh, pada 2012, dinyatakan sama Menterinya bidang Lingkungan Hidup, bahwa tahun 2012 cuacanya mirip dengan cuaca tahun X dan Y. Karena tingginya laju pengrusakan hutan. Nah, klop banget dah tuh, informasi-informasi yang sudah diberikan oleh para pembantunya benar-benar beliau laksanakan dalam waktu singkat, namun sepertinya memang kondisi Indonesia yang latah atau baru panik kalau sudah kejadian, yaa jadilah bencana.

Si Bapak itu juga rajin meminta pembantunya untuk membaca buku bagus, buku yang berkaitan dengan teori dan apa yang sedang terjadi tentang apa, pemikiran tentang siapa. Saya tidak tahu deh pembantunya ini pada baca atau gak.

Kondisi dunia saat ini benar-benar carut marut dari sisi ekonomi, si Bapak abis ngerombak pembantunya, dan dilihat sebagai perombakan yang hanya menjadi citra, bukan untuk kinerja. Memang mudah mengatakan dari luar itu hanya sebuah permak. Padahal memang untuk kinerja, karena beliau sudah melihat bagaimana kondisi 2012. 2012 adalah tahun bekerja. bekerja. bekerja.

2012 harus kebut bekerja, ada pembantu yang menjadi bottleneck, ganti, tapi ada kalanya tidak diganti, ada kontrak politik kali, tapi untuk pos-pos tertentu, si Bapak menempatkan orang-orang yang sangat kredibel, profesional dan berintegritas. Pos tertentu itu adalah pos yang bisa menjadi lompatan jauh supaya negara ini bekerja.

Posisi tertentu yang menurut saya si Bapak pintar banget naruh posisi itu adalah tukang dagang, tukang cari orang berduit, tukang usaha buatan aseli Indonesia. Tukang dagang merangkap tukang cari orang berduit sekarang, melihat kondisi Eropa Amerika turun, Cina yang 60%nya ekspor ke dua negara yg turun tadi pasti cari pasar baru, kalo gak domestik siapa lagi kalo bukan Indonesia. Kalo gak bukan orang yang jago negosiasi dagang, kita bakal keteteran dipaksa nerima barang-barang negara itu. Bahkan Eropa Amerika jg lagi berusaha menjual barang ke tempat yang ekonominya tumbuh, ya si Cina lagi dan Indonesia lagi, tambah India.

Trus lagi, sepertinya si Bapak baca sejarah dari baheula gimana cara negara Cina jadi seperti sekarang ya. Tidak mau salah langkah macam pemerintahan sebelum dia. Memang Cina kalau saya baca-baca mensupport habis-habisan bank aseli dari sana untuk menggenjot proyek-proyek mercusuar untuk dukungan infrastruktur. Nah kalo disini, si proyek-proyeknya itu dikasi ke tukang usaha nya sini. Si tukang usahanya sini orangnya sulit dipengaruhi jadi yaa ces pleng aja mau melakukan gerakan usaha sana-sini. Yang penting, bisa teriak GOOOOOOOLLL (macam bola saja).

Satu lagi yang memang lagi hip-hipnya di dunia, yaitu ekonomi kreatif. si Bapak sampe khusus bikin divisi pembantu sendiri akhirnya karena memang, aselinya Indonesia itu semua bisa di poles dan di sajikan (untuk jenis-jenis yang masuk kegiatan industri kreatif). Fokus pada apa yang dimiliki oleh Indonesia. Great. Termasuk karena saya juga pernah membawa hal ini ke konferensi, dan melihat bahwa si Indonesia ini harus buruan lah menggenjot ekonomi kreatifnya lah. Hidup lah Indonesia dari sini.

Masih banyak lagi sih kenapa gw panggil si Bapak futurist. Cuma harus dipotong lagi ah. Musti mandi tetekoek siap-siap ke kantor. Saya sih berpikir positif terus aja dan husnudzan, capek hati dibawa buruk mulu. Berkontribusi. Pasti!

KK

 

 

 

 

 

 

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Paling laris

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 130 other followers